Untitled Document
Untitled Document
     
Untitled Document
 
Untitled Document
 
Jelajah

Minggu, 17/02/2013 15:47 WIB
Puisi untuk Tuhan dari Anak Jalanan


( Anak jalanan beraktivitas di Saung Kalimalang )

Wajah Riski (10) nampak semringah keluar dari Saung Kalimalang. Ia girang karena berhasil menyelesaikan sebuah karya puisi. “Malam Menjelang Pagi”, begitu judul yang dia tulis. Kemudian menyusul Khaidil (11), Wahyu (13) dan Fatimah (12). Siang itu saya bertugas mendampingi beberapa anak jalanan menulis puisi dengan tema religi. Puisi mereka nantinya diterbitkan di salah satu media lokal di Bekasi, di rubrik Sastra Kalimalang.

“Bang, Jenong tidak bisa menulis,” ucap Riski pada saya.

Iya, betul. Satu dari teman mereka ada yang tidak bisa menulis dan membaca. Jenong (20) namanya. Ia malah paling dewasa di antara teman-temannya, kira-kira sepantaran saya. Beberapa kali dia mengayunkan tangan ke pelipis, telapak kusam itu mengusap keringat. Saya paham.

“Riski, coba kamu bantu Jenong. Jenong yang mengeja, kamu  yang menuliskannya.” Mata kami saling bertatapan.

Mengapa yang susah semakin susah/yang mapan semakin mapan/aku ingin semua manusia sama di hadapanMu, Tuhan.

 Jenong akhirnya bisa juga menyelesaikan sebuah puisi. Itulah nukilannya. Kemudian saya lanjutkan membaca puisi Fatimah, “….kutulis puisi ini hanya untukMu, Tuhan/ karena pena ini digerakkan olehMu juga… Puisi Wahyu seolah melengkapi, “…susah payah kami lalui bersama, suka duka kami hadapi bersama, kebersamaan menguatkan kami. Terima kasih, Tuhan...”

Mereka nampak polos mengungkapkan kecintaannya pada Tuhan. Mereka menulis sambil mondar-mandir tidak karuan. Ada yang bertelanjang dada dan juga beberapa dari mereka keluar saung kemudian nyemplung ke kali. Saking lincahnya pula mereka kadang ada yang tertampar buku karena memang digantungkan dengan menggunakan tali dan jepitan dari atap saung. Hujan buku ini mengingatkan kami agar tidak sombong akan ilmu.

Tak terasa hari petang, matahari pun perlahan turun. Anak-anak jalanan yang pulang dari mengamen semakin banyak berdatangan. Kami pun duduk di bantaran (sungai) Kalimalang. Kalau sudah datang apalagi berkumpul, anak-anak pasti ribut dan cerewet, tapi saya malah menikmati. Mereka juga ternyata pintar menghibur diri dan orang lain. Mereka terlihat ramah, terasa sopan mengucapkan salam.

  Saung Kalimalang

Perkenalan saya dengan anak jalanan bermula dari Ane Matahari, seorang seniman dan tokoh musikalisasi puisi. Setahun yang lalu, pria berusia 40 tahunan ini mengutarakan keinginannya untuk mendirikan perpustakaan di pinggir Kalimalang, dekat Kampus Universitas Islam ‘45’.

Ane Matahari pernah belajar di Institut Kesenian Jakarta dan kemudian dengan penuh kesadaran memilih turun ke jalan. Dia tak mau berdiam diri. Berkat keuletan serta bimbingannya, anak-anak jalanan berhasil menyabet sederet prestasi dan menelurkan karya berupa album musikalisasi puisi. Bahkan, beberapa orang anak jalanan itu sudah mau kembali ke rumah tanpa rasa minder. Menikmati kehidupan, layaknya anak-anak seusia mereka.

“Saya fokus kepada persoalan mentalitas dan moralitas anak-anak. Kadangkala, orangtua mereka tanpa sadar melakukan perbuatan tidak baik tersebab himpitan permasalahan rumah tangga. Kalau sudah memiliki landasan moral, mereka akan bisa menyadarkan keluarga dan lingkungan sekitar. Saya terus menggali potensi mereka, terutama melalui puisi dan musik. Materi inilah yang dijadikan bahan untuk edukasi kreatif bagi pertumbuhan rohani.. Ini art therapy dan perpustakaan adalah pemantiknya,” begitu ungkap Ane suatu kali.

Perpustakaan di bantaran Kalimalang berdiri gagah meski terbuat sekadar dari rakitan bambu. Buku perpustakaan tersebut sumbangan masyarakat. Buku apa saja. Mimpi kami dengan pemuda lain akhirnya bisa terwujud. Sejak itu, anak-anak jalanan yang biasa mandi dan main di Kalimalang bernaung di saung. Mereka mulai gemar membaca buku, majalah, komik, dan buku pengetahuan lainnya sambil tiduran. Ada juga yang hanya memainkan gitar kecil, sementara matanya menerawang ke perempatan lampu merah yang tidak begitu jauh jaraknya dari  saung.

Saya sering mengamati mereka diam-diam. Kadang pura-pura sibuk menatap layar laptop sembari mencuri pandang saat mereka asyik duduk dan membaca di saung. Bila seorang anak membaca, yang lain akan ikut membaca. Namun, mereka tak semua bisa karena sebagian mereka memang tidak mengenyam bangku sekolah. Kekurangan tersebut justru menjadi kelebihan. Satu di antara mereka, yang bisa membaca, biasanya berlagak ingin menceritakan isi buku pada teman lainnya. Ceritanya dibesar-besarkan. Nah, di sinilah, yang tidak bisa membaca, penasaran dan mendesak si pencerita mengajari membaca. Proses itu berjalan dari minggu ke bulan hingga akhirnya mereka pun satu persatu berangsur bisa.

Kami menyebutnya Perpustakaan Pinggir Kali atau Saung Kalimalang karena memang bukan perpustakaan laiknya di kampus ataupun sekolah-sekolah. Ini hanya tempat, bagaikan kata di dalam  pantun, “kalau ada sumur di ladang, bolehlah kami menumpang…” Untuk itulah, kami mesti memberi: berbuat sesuatu supaya bermanfaat bagi masyarakat. Hajat dan hak orang banyak, termasuk milik mereka yang papa.

Saung inilah yang akhirnya mengantarkan kami menjadi pengais kata-kata. Sebuah media lokal menawari dan memercayai kami menggarap serta mengisi satu halaman penuh koran setiap minggunya sebagai ruang ekspresi budaya. Halaman itu bernama Sastra Kalimalang. Dari situ, kami kerap mengajak anak jalanan, tukang ojek, anggota satpam, PSK, napi atau pun pedagang asongan dan pedagang kaki lima agar ikut terlibat menuliskan puisi-puisi bagi negeri tercinta. Kami juga rutin menggelar pertunjukan di kampung-kampung, mengacak anak-anak membaca puisi. Dari merekalah kami kerap menemukan rupa kata yang tidak hanya sekadar kata.

***

Beribadah di Polsek Tambun

  Apakah Tuhan adalah Ibu?/ atau Tuhan adalah Ayah?/ katanya Tuhan itu indah/tetapi, mengapa orang berperang karena Tuhan?/ jangan-jangan Tuhan kesepian/ Ia tak berayah, juga tak beribu/ Ia terus mengalir dalam darah di tubuh kita/ Tuhan itu dekat sekali. 

Tulisan di atas ialah penggalan puisi “Yang Maha Indah” karya Khaidil dan telah dimuat di halaman Sastra Kalimalang, Radar Bekasi (Jum’at: 27/1). Bocah berbadan kurus dan berambut pirang ini biasa mengamen di lampu merah tepatnya di perempatan Jalan Cut Mutia-Chairil Anwar Kota Bekasi. Ya, mereka selalu jadi ingatan, dan malah berlaga dengan kekerapan insiden tawuran antarpelajar maupun tindakan anarkis mahasiswa di Bekasi. Sepintas, tergambar pula sebaya mereka di seantero pelosok negeri yang tidak sekolah: mereka belum dilunasi janji kemerdekaan bernama pencerdasan.

Dari media massa pernah diberitakan bahwa setiap tahun ada sekitar 880 ribu anak bangsa berpotensi buta aksara. Tapi, anak jalanan di hadapan saya ini, meski tak sekolah, bukanlah generasi pendendam. Mereka bukan pembenci Indonesia. Kalau datang ke Perpustakaan Pinggir Kali, kita akan melihat bendera merah putih lusuh berukuran kecil terpasang rapi di dinding bambu: itu pemberian mereka. Sebuah rasa dan sikap nasionalisme itu sendiri. Bisa jadi ada perasaan mereka ingin mengibarkan Sang Saka seperti anak-anak sekolah mengibarkannya di hari Senin, meski tanpa upacara. Mereka menaruh harapan besar pada bangsa ini.

Puisi-puisi mereka pun akhirnya mengingatkan pembaca pada tragedi kemanusiaan di Bekasi—tragedi yang meruntuhkan bangunan toleransi. Di Ciketing, serombongan orang menyerbu umat yang tengah menunaikan ibadah. Hal serupa berulang pada penyegelan gereja jamaah Filadelfia di Tambun Utara. Di Kranji, satu orang tewas dibakar massa dalam insiden bentrokan Betawi-Ambon.

Pendiri Kelompok Penyanyi Jalanan, Anto Baret mengatakan, anak jalanan bukanlah anak bodoh dan tidak bermoral. Pemerintah mestinya lebih peka atas fenomena yang terjadi di lapangan. Pengentasan anak jalanan tidak harus dengan cara-cara kekerasan: penangkapan atau razia yang kerap diwarnai pemukulan. Konsep Rumah Singgah, yang ditawarkan pemerintah dan menelan dana miliaran rupiah, ternyata  juga tidak ampuh untuk menghentikan aktivitas anak jalanan.

“Itu terjadi karena tidak ada pola-pola pembinaan yang bersifat tatanan. Padahal, hidup di jalanan juga memiliki tatanan, budi pekerti dan sopan santun. Ini yang sebenarnya terabaikan,” kata Anto ketika berkunjung ke Bekasi. (Respati Wasesa)

[dibaca 664 kali]
Bookmark and Share

Berita Terkait

Komentar (0)
Untitled Document

Untitled Document
Tulis Komentar
Nama :
Email/website :
Komentar :
   

Ketikkan kode di bawah ini

6c44fa

   
 
BERITA TERKINI
Senin, 14/07/2014 17:07 WIB
Kamis, 10/07/2014 20:47 WIB
Kamis, 10/07/2014 20:37 WIB
Senin, 07/07/2014 12:46 WIB
Rabu, 04/06/2014 19:14 WIB
Kamis, 29/05/2014 08:59 WIB
Kamis, 29/05/2014 08:56 WIB
Kamis, 29/05/2014 08:52 WIB
Selasa, 27/05/2014 13:58 WIB

Untitled Document
Copyright © 2012 BekasiRaya.com - All rights reserved